Saturday, October 1, 2011

Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus



Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus (1873-1897)
Pujangga Gereja
Pesta: 1 Oktober


Selama 18 bulan terakhir dari penyakit yang dideritanya (April 1896 - wafatnya Oktober 1897), sewaktu dia menjelang ajalnya akibat serangan TBC, Therese (atau Teresa) biarawati Karmelit yang masih muda dari biara di Lisieux, mencoba tetap berkorespondensi dengan sejumlah orang-orang yang dikaguminya selama beberapa tahun pertama masa pengabdiannya di tarekat religius wanita yang paling ketat itu. Seringkali dia tidak dapat memegang pen karena penderitaannya, akan tetapi dia masih dapat melanjutkan karya refleksi autobiografinya dan juga menulis beberapa suratnya yang sangat menyentuh. Salah satu surat tersebut mungkin bisa menjadi indikator mengapa biarawati yang masih muda ini, meskipun tidak memiliki pendidikan teologis secara formal, diangkat menjadi Pujangga Gereja seratus tahun setelah wafatnya, oleh Sri Paus Yohanes Paulus II. Dalam suratnya kepada "saudara" spiritualnya, yaitu imam-misionaris Adolphe Roulland, pada tanggal 19 Maret 1897 (surat nomor 191), dia mengulangi kalimat yang digunakan oleh Pujangga Karmelit lainnya, Yohanes dari Salib: "Yang terkecil dari kasih murni (penekanannya sendiri) adalah lebih berguna bagi Gereja ketimbang segala pekerjaan yang pernah dilakukan....Aku ingin menyelamatkan jiwa-jiwa dan melupakan diriku sendiri bagi mereka. Aku ingin menyelamatkan mereka meskipun setelah aku wafat, maka aku akan berbahagia jika ...anda boleh katakan begini: "Ya Allahku, ijinkanlah saudariku ini pergi untuk membuat supaya Engkau dikasihi."" Therese Lisieux adalah Pujangga Kasih Murni.

Paradoks dari kekudusan jarang sekali tergambarkan seperti dalam kasus sang biarawati muda yang pemalu namun sangat percaya, yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi Allah. Therese yang kontemplatif menjadi Therese sang pelindung misionaris. Therese si bunga kecil yang tulisan-tulisannya diubah oleh saudarinya sendiri, Sr.Agnes, supaya sesuai dengan standar tulisan abad ke-19, dinyatakan dalam tulisan-tulisannya yang masih asli, sebagai sesosok figur yang jauh lebih kuat dan mendalam. Therese gadis sederhana yang tidak pernah mengecap pendidikan teologis menjadi Therese sang Pujangga Gereja. Therese masih terus membawa dampak yang besar bagi Gereja Katolik di abad ke-20 lewat tulisan-tulisannya. Ketika Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai doctor ecclesiae, sebuah babak yang baru dimulai dalam sejarah panjang dari para doctores ecclesiae.

Marie-Francoise Therese Martin dilahirkan pada tanggal 2 Januari 1873 di kota Alencon, Normandy, Perancis. Dia adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara anak-anak pasangan Louis Martin dan Zelie Guerin, yang keduanya pernah mempertimbangkan untuk bergabung dengan komunitas religius sebelum mereka menikah. Semua anak-anak mereka yang hidup hingga dewasa, nantinya bergabung dengan berbagai komunitas religius. Dalam autobiografi spiritualnya "Story of a Soul", dimana Therese menulis hingga akhir hayatnya, dia memberikan gambaran tingkatan pertumbuhan spiritualnya dalam keluarga Katolik yang taat ini. Dia dibentuk dalam lingkungan dimana kisah hidup orang-orang kudus adalah model dasar pendidikan dan sumber hiburan, dan tidak ada alasan untuk meragukan klaim yang dibuatnya bahwa dia telah mendedikasikan hidupnya untuk suatu kehidupan religius sejak ia masih sangat kecil. "Sejak umur tiga tahun, aku mulai tidak menolak apapun yang Tuhan minta dariku, " demikian tulisnya. Bagian pertama dari hidupnya berakhir ketika ibunya wafat ketika ia berumur empat tahun dan dia memilih kakak perempuannya Pauline sebagai "ibunya yang kedua". (Nantinya Pauline akan menjadi ibu kepala biara di komunitasnya di Lisieux, dimana dia membantu mempercepat kanonisasi Therese). Bagian kedua hidupnya adalah periode yang penuh kesulitan bagi gadis kecil yang sensitif ini, "cobaan musim dingin dari bunga kecil". Pada natal tahun 1886, Therese mengalami pertobatan yang mencetuskan bagian ketiga dari hidupnya. "Aku menerima rahmat untuk meninggalkan masa kecilku, " demikian tulisnya, "singkatnya, rahmat pertobatan...pada malam itu, terang memulai bagian ketiga dari hidupku, bagian yang paling indah dan paling dipenuhi oleh rahmat dari surga" (Story of a Soul, pasal 5). Dari sejak itu, keinginan Therese yang terbesar adalah untuk mengikuti jejak kakaknya yang menjadi biarawati.

Pada bulan November 1887, Therese, dan kakak perempuannya Celine, dan ayahnya pergi berziarah ke Italia dimana mereka diterima dalam suatu audiensi dengan Sri Paus Leo XIII. Therese mencium kaki Sri Paus dan sempat menimbulkan kegemparan dengan permintaannya supaya Sri Paus mengijinkan dirinya untuk bergabung dengan tarekat Karmelit pada usia 15 tahun, dibawah batas umur yang diijinkan. Sri Paus berusaha untuk menasihati bahwa segala hal akan terjadi yang terbaik bagi dirinya jika dia mau menunggu, akan tetapi Therese berkeras hati dan terpaksa harus digotong oleh dua pengawal Sri Paus tanpa dia menerima jawaban yang jelas dari Sri Paus.

Akhirnya, pada tanggal 9 April 1888, Therese Martin diterima masuk ke biara Karmel di Lisieux sebagai seorang postulan. Dia akan menghabiskan sisa hidupnya yang kurang dari 10 tahun, dalam biara tersebut. Pada bulan Januari 1889 dia menjadi seorang novis, dan akhirnya tanggal 8 September 1890, dia melakukan profesi penuh sebagai angga komunitas Karmelit, dan mengambil nama Sr. Therese dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Suci. Pada tahun 1894, ayahnya yang dikasihinya wafat setelah menderita sakit keras dan kakak perempuannya Pauline yang sekarang telah menjadi ibu kepala biara, Mother Agnes, menyuruhnya untuk menuliskan memori masa kecilnya. Inilah awal mula manuskrip yang nantinya dikenal sebagai buku "Story of a Soul". Tulisan ini terdiri dari tiga manuskrip yang terpisah. Delapan pasal dari manuskrip A ditulis antara Desember 1894 dan Januari 1896, atas perintah Mother Agnes. Manuskrip B (pasal 9) menyangkut panggilan kasih, ditulis di bulan September 1896 dan dialamatkan kepada Yesus. Akhirnya, manuskrip C (pasal 10-11), ditujukan kepada Mother Marie de Gonzague, ditulis pada bulan Juni 1897 dan menjelaskan hari-hari terakhirnya dan pengalaman "malam kegelapan" yang dimulai pada 5 April tahun sebelumnya dan terus berlangsung hingga wafatnya. Pada percobaan yang dialaminya ini, Therese kehilangan rasa kehadiran Allah dan dia tinggal di tengah-tengah kegelapan dimana segala rasa sukacita meningalkannya. Pasal-pasal terakhir dari Story of a Soul ini merupakan inti dari pesan-pesan Therese.

Therese dari Lisieux, lebih daripada dua pujangga wanita lainnya yang dideklarasikan tahun 1970, mewakili suatu model yang baru dari gelar doctor ecclesiae yang memiliki sejarah yang panjang dan masih terus berevolusi. Bukan karena Therese adalah seorang wanita, tetapi karena bentuk pengajarannya memupuskan kategori status doktoral yang tradisional lebih daripada Santa Teresa Avila dan Santa Catherine dari Sienna. Kebijaksanaan yang begitu mendalam dari tulisan-tulisan sang biarawati Karmelit merupakan narasumber penting bagi Gereja Katolik dalam kurun waktu seabad terakhir. Teolog Katolik dari Swiss yang terkenal, Hans Urs von Valthasar menjelaskanya dengan gamblang ketika dia mengatakan, "Dia (Therese) menembus segala lapisan trivialitas dan kepura-puraan, kepada kebenaran Injil yang sederhana dan gamblang." Semua doctores ecclesiae tentunya juga mencari kebenaran Injil, meskipun mereka melakukannya dalam format dan model sesuai dengan tututan jaman masa hidup mereka. Kekhasan ekspresi Therese akan Injil, pada intinya sesuai dengan makna mendasar dari ke-Kristen-an dan pada saat yang sama sifatnya kontemporer dalam hal kesederhanaan dan keterus-terangannya.

Esensi dari ajaran-ajaran Therese adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada kasih Allah, suatu penyerahan yang pada gilirannya membentuk dasar suatu hidup yang didedikasikan bagi penyebaran pesan-pesan kasih Allah bagi orang-orang lain lewat semangat misionaris dan kasih, entah melalui pewartaan fisik dari Injil, atau lewat doa-doa dan dukungan pribadi terhadap para misionaris. Therese mengungkapkan ajarannya sebagai "cara-cara kecil" yang bahkan cocok untuk anak-anak. Seperti ditulisnya dalam pasal 10: "Allah tidak dapat menginspirasikan keinginan yang tidak realistis. Karena itu, aku dapat, betapapun kecilnya aku, berhasrat untuk menjadi suci. Mustahil kiranya bagiku untuk tumbuh, dan maka aku harus menerima diriku sendiri dengan segala kekuranganku. Tetapi aku ingin mancari jalan untuk pergi ke surga dengan cara-cara yang kecil, cara yang langsung, singkat, dan sama sekali baru."

Gambaran "rasa kecil" yang digunakannya di sepanjang tulisannya - bunga kecil, burung kecil, dan semacamnya, mungkin tampak sentimentil bagi sementara orang, tetapi hal ini harus dimengerti lewat ayat Injil, "Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Mat 18:3). Cara Kecil-nya Therese tidak dikarakterisasi oleh kekerdilan rasa takut, melainkan kebesaran kasih: "Untuk memenuhi Keadilan Ilahi," dia menulis, "diperlukan kurban yang sempurna, tetapi hukum Kasih telah mengalahkan hukum rasa takut, dan Kasih telah memilih aku sebagai kurban persembahan, aku, mahluk yang lemah dan tidak sempurna." (pasal 9). Karena Therese menyangkal dirinya sendiri sepenuhnya bagi perannya sebagai kurban, terutama ditengah-tengah penderitaan fisik dan kesepian batin bulan-bulan terakhir hidupnya, dia tahu bahwa Allah akan menggunakan kisahnya untuk menyebarluaskan pesan-pesan-Nya kepada dunia. Dalam "Story of a Soul" dia berseru, "Oh! Meskipun aku kecil, aku ingin menerangi jiwa-jiwa seperti yang dilakukan oleh para nabi dan pujangga Gereja. Aku mempunyai panggilan sebagai seorang rasul." Karena dia telah menemukan bahwa "PANGGILANKU ADALAH KASIH" (dikapitalisasi olehnya sendiri), segala panggilan adalah miliknya, dalam satu atau lain cara. Selama bulan-bulan terakhirnya keinginannya untuk menjadi misionaris, bahkan seorang doktor, menjadi suatu keyakinan diri sebagaimana dia menyerahkan dirinya sendiri sepenuhnya kepada Allah. Diantara percakapannya dalam bulan-bulan terakhir hidupnya, berikut ini tercatat pada tanggal 17 Juli 1897: "Aku merasa bahwa misiku baru akan dimulai, misiku untuk membuat orang-orang lain mengasihi Allah seperti aku mengasihi-Nya, misiku untuk mengajarkan jiwa-jiwa tentang Cara-cara Kecilku. Jika Allah menjawab permintaanku, waktuku di surga akan dihabiskan di dunia ini hingga akhir dunia. Ya, aku ingin menjalani surgaku di atas bumi dengan melakukan kebaikan."

Akhirnya, kita dapat mencatat satu lagi karakteristik ajaran Therese yang membuatnya tidak umum diantara para pujangga Gereja, yaitu tiadanya perdebatan polemik. Para pujangga Gereja sebelum-sebelumnya selalu memperhatikan pengajaran yang benar dan ortodoks, dan Therese juga tidak terkecuali. Akan tetapi, tidak seperti nyaris semua pujangga-pujangga pendahulunya, tulisan-tulisan Therese sama sekali tidak mengandung kontroversi dan serangan terhadap ajaran yang heterodoks. Therese dari Lisieux berkarya di luar lingkup ini. Menyebarkan pesan-pesan kasih adalah begitu penting baginya sehingga dia tidak punya waktu untuk mengurusi hal-hal lainnya.

Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus (St. Therese Lisieux) adalah salah satu Santa yang paling populer dan disukai oleh banyak orang sepanjang abad ke-20. St. Teresa dikanonisasi pada tanggal 17 Mei 1925. Sri Paus Yohanes Paulus II memproklamasikannya sebagai Pujangga Gereja, wanita ketiga yang mendapat gelar kehormatan ini, pada tanggal 20 Oktober 1997 dalam suratnya yang berjudul "Divini amoris scientia". St.Teresa dari Kanak-kanak Yesus diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Santa Theresa Lisieux, doakanlah kami!

Sumber: The Doctor of The Church, oleh Bernard McGinn, ed.1999, hal.169
Diterjemahkan oleh Jeffry Komala
© www.gerejakatolik.net

Renungan daripada laman web Sang Sabda

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3).

Pada hari ini kita merayakan pesta Santa Teresa dari Lisieux (1873-1897), perawan dan Pujangga Gereja. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresa masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresa adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus di atas. Tidak percuma nama panggilannya adalah “Teresa Kecil” atau si “Kuntum Bunga yang kecil”.

Ada dua orang perempuan kudus dari Ordo Karmelites (pada zaman yang berbeda) yang bernama Teresa, yang satunya adalah Santa Teresa dari Avila atau “Teresa Besar” yang juga adalah seorang Pujangga Gereja.

Ketika masih berumur 12 tahun Teresa sudah berjanji kepada Kristus: “Yesus di kayu salib yang haus, aku akan memberikan air pada-Mu. Aku akan menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat.” Pendosa pertama yang bertobat berkat doa gadis kecil ini adalah seorang penjahat kelas berat yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesali perbuatan-perbuatan jahatnya. Orang itu bertobat di hadapan sebuah salib sesaat sebelum menjalani hukumannya. Luar biasa!!! Meskipun para suster dalam biara (termasuk dua orang kakaknya) mencintai Teresa, hal ini tak berarti dia luput dari berbagai pencobaan batin dan kekeringan. Karena kematangan jiwanya, Teresa sudah diangkat menjadi magistra novis ketika dia baru berumur 20-an tahun.

Dalam biara dengan klausura ketat, Teresa berjuang untuk menempuh ‘jalan sederhana’ menuju kesucian, yaitu secara konsekuen percaya dan mengasihi Tuhan. Ia selalu menampilkan wajah yang jernih dalam situasi yang bagaimana pun. Orang kudus muda ini menderita sakit paru-paru yang parah dan akhirnya meninggal ketika berusia 24 tahun. Ia mewariskan catatan riwayat pribadi yang ditulis atas permintaan pemimpin biaranya. Judulnya: “Kisah satu jiwa” (Inggris: The Story of a Soul). Di situ Teresa menunjukkan, bahwa kesucian dapat dicapai oleh siapa saja, betapa pun rendah, hina dan biasa-biasa saja orang itu. Caranya adalah dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cintakasih yang murni kepada Tuhan. Lewat teladan hidupnya, Teresa telah mengajarkan, bahwa kita dapat bersatu dengan Allah dengan mempersembahkan kepada-Nya setiap saat dari kehidupan kita sehari-hari. Persembahan sederhana itu dapat menjadi sarana bagi kita guna mencapai kesucian yang kita rindukan.

Para suster Karmelites di Hanoi, Indo-China (Viet Nam sekarang) memintanya untuk memperkuat biara di sana, namun penyakit yang dideritanya tak mengizinkan. Delapan belas bulan terakhir dari hidupnya adalah periode penderitaan-badani yang sangat menyakitkan bagi Teresa, pada saat yang sama juga merupakan masa pencobaan rohani. Pada bulan Juni 1897 Teresa dipindahkan ke ruangan khusus untuk para penderita sakit di biara dan tidak pernah keluar lagi dari sana sampai saat ajalnya pada tanggal 30 September. Suster muda, sederhana dan suci ini menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah bibirnya mengucapkan sabda-sabda ilahi dari Kitab Suci. Teresa diangkat menjadi seorang beata oleh Paus Pius XI pada tahun 1923 dan Paus yang sama mendeklarasikannya sebagai seorang santa pada tahun 1925.

Pada tahun 1927, bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius, Teresa diangkat menjadi pelindung Misi, meskipun belum pernah pergi ke luar negeri. Dia adalah juga pelindung para penjual bunga. Santo Fransiskus Xaverius yang Yesuit itu diutus Yesus Kristus ke ujung-ujung bumi, tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh tujuh puluh murid seperti diceritakan dalam bacaan Injil di atas, sedangkan Teresa diutus – melalui doa-doanya – juga ke mana-mana, meskipun secara fisik berkedudukan secara statis dalam selnya. Kita memang suka lupa bahwa kegiatan doa yang benar juga merupakan kegiatan kerasulan. Memang Jalan Tuhan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata yang berdasarkan akal budi semata. Inilah Penyelenggaraan Ilahi yang penuh dengan misteri.

Setiap hari, marilah kita menanggapi panggilan Tuhan Yesus Kristus. Memang kadang-kadang barangkali kita merasa tak pantas, namun sebenarnya kepada kita telah diberikan kuasa dan wewenang untuk menjadi ‘kaki-tangan’ Yesus membawa jiwa-jiwa ke surga. Kalau kita berdiam dalam Kristus dan taat mengikuti perintah-perintah-Nya, maka cinta kasih-Nya akan dapat dipastikan mengalir dari dalam diri kita. Baiklah kita melihat setiap hari dengan pengertian bahwa kepada kita telah diberikan suatu kesempatan untuk menjadi saksi Injil, mendoakan orang yang menderita segala sakit-penyakit, fisik maupun rohani, dan mengusir roh-roh jahat.

Cilandak, 1 Oktober 2010 [Pesta S. Teresa dari Lisieux, Perawan dan Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS